KUALA LUMPUR – Polis Diraja Malaysia (PDRM) mendedahkan sebanyak 947,301 individu menjadi mangsa sindiket penipuan pelaburan melibatkan kerugian dianggarkan lebih RM3.8 bilion bagi tempoh awal Januari sehingga November lepas.
Pengarah Jabatan Siasatan Jenayah Komersial (JSJK) Bukit Aman Datuk Amar Singh Ishar Singh berkata kebanyakan mangsa disyaki terpedaya dengan pelaburan itu yang menjanjikan pulangan tinggi.
Beliau berkata berlaku peningkatan kes pada tahun ini berbanding tahun lepas untuk tempoh sama yang merekodkan sebanyak 190,750 mangsa dengan jumlah kerugian dianggarkan RM845,000.
“Pelbagai kes penipuan yang PDRM kesan iaitu pelaburan komoditi, perniagaan, pertanian, emas, mata wang asing, saham dan tender. Selain itu, saya juga ingin mendedahkan terdapat 30 syarikat pelaburan yang dipercayai terlibat dalam kes ini,” katanya dalam sidang akhbar di sini, hari ini.
Katanya antara syarikat yang terlibat dan sedang diambil tindakan ialah Forex -Fxunited, Forex – Trigerfx, Pelaburan PTM4U, MGSB, Capital Poster Advisor, Pelaburan Emas Royal Gold, Kongsi Makan, Richway, Mospace, Mface/Mbi, Saham – Century Dinasty, Bookcoin, Bit Coin-Al Mubin Agarwood dan Bitcoin-Bit Kingdom.
Beliau berkata semua syarikat terbabit telah dikenal pasti dan JSJK sedang berusaha mengesan kesemua sindiket yang terlibat.
“JSJK ingin menasihatkan orang ramai supaya tidak mudah terpedaya dengan tawaran pelaburan yang tidak sahih dan pelaburan dalam bentuk saham, emas dan bit coin antara penipuan yang kerap dilaporkan.
Amar Singh berkata mangsa mendapat tahu tentang tawaran pelaburan yang dibuat melalui media sosial serta diperkenalkan oleh saudara-mara serta rakan.
“Selepas itu, mangsa yang berminat akan menyertai pertemuan atau ceramah oleh syarikat pelaburan terbabit sebelum mereka membuat pelaburan,” katanya.
Beliau berkata orang ramai jangan mudah terpedaya dengan segala bentuk pelaburan yang menjanjikan keuntungan berlipat-ganda dalam jangka masa pendek dan perlu membuat semakan dangan Bank Negara Malaysia untuk mengetahui status syarikat pelaburan sama ada berada dalam senarai hitam atau sebaliknya.
Selain itu, elakkan diri daripada skim pelaburan yang tidak jelas, meragukan dan menjanjikan pulangan yang tidak munasabah atau skim pelaburan yang tidak mematuhi syariah sepenuhnya. – BERNAMA
Hak atas fotoREUTERSImage captionIndustri retail di Indonesia sedang terpuruk, kata Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).
Tahun 2017 menjadi tahun yang berat bagi industri ritel di Indonesia lantaran banyak perusahaan ritel pakaian jadi yang menutup sebagian toko atau bahkan sampai gulung tikar.
Tahun 2108, bisnis ritel diperkirakan masih lesu lantaran fenomena meningkatnya leisure economy atau belanja untuk rekreasi kata pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics & Finance (INDEF), Bhima Yudhistira.
Gelombang penutupan beberapa gerai ritel sepanjang tahun ini di Indonesia, termasuk gerai 7 eleven, matahari dan Lotus, dipandang sebagai realitas yang menunjukkan penurunan daya beli masyarakat.
Di sisi lain, Bhima Yudhistira mengatakan belakangan terjadi kecenderungan perubahan pola konsumsi masyarakat dari konsumsi barang menjadi belanja barang yang didasarkan pada gaya hidup dan lebih pada aktualisasi diri atau leisure yang berbasis online.
"Artinya belanja untuk pakaian jadinya turun, tetapi belanja dari rekreasi, transportasi dan komunikasi ini pertumbuhannya cukup bagus, di atas 5%. Ini menandakan mungkin masyarakat berhemat untuk beli pakaian jadi, untuk membeli makanan dan kebutuhan sehari-hari, tetapi mengalokasikan lebih banyak untuk traveling," ujar Bhima kepada BBC Indonesia, Selasa (19/12).
Corporate Communication General Manager PT Trans Retail Indonesia, Satria Hamid mengakui performa industri ritel memang mengalami perlambatan lantaran perubahan pola konsumsi masyarakat yang berujung pada banyak bisnis ritel yang kemudian gulung tikar.
"Menutup toko ini memang adalah salah satu strategi di bisnis ritel. Kalau toko yang sudah tidak bisa perform, daripada menganggu menganggu kinerja perusahaan, lebih baik ditutup. Kita cari daerah yang lebih baik," ujarnya.
Sepanjang 2017, gelombang penutupan ritel di Jakarta bermula pada penutupan seluruh gerai 7 Eleven pada akhir Juni lalu, dilanjutkan dengan dua gerai Pasaraya milik Matahari dan seluruh gerai Lotus yang tersebar di 5 lokasi pada bulan Oktober. Departemen store lainnya yang lisensinya berasal dari Inggris yakni Dabenhams dan toko dari merek asal Amerika Serikat GAP juga akan menutup gerainya di penghujung tahun ini.
Hak atas fotoPETER PARKS/AFP/GETTY IMAGESImage captionMeski secara resmi, 7-Eleven di Indonesia akan ditutup pada 30 Juni 2017, namun banyak gerai waralaba tersebut yang sudah lebih dulu ditutup sejak pekan lalu.
Prospek ekonomi digital makin moncer
Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan konsumsi pakaian jadi di triwulan III 2017 memang mengalami perlambatan, hanya tumbuh 2%. Padahal tiga tahun belakangan, pertumbuhannya sebesar 5% namun terus mengalami penurunan.
Dengan adanya tren leisure economy, Bhima memprediksi prospek bisnis online ataue-commerce semakin bersinar. Apalagi, berdasar hasil survey, 70% kaum milenial gemar jalan-jalan.
Adapun saat ini share bisnis online baru 1% dari total retail nasional, dengan nilai transaksi sebesar Rp 75 triliun, menurut data Bank Indonesia.
Dengan indikasi bahwa nilai transaksi e-commerce pada hari belanja online nasional (harbolnas) beberapa hari lalu mencapai Rp 4 triliun rupiah, ia optimistis pada 2018 nilai transaksi ekonomi digital akan mencapai Rp 120 triliun.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionDiskon besar-besaran menjelang penutuptan toserba Lotus di bilangan Thamrin Jakarta Pusat pada Oktober lalu.
Apalagi, teknologi finansial (fintech) yang menjadi pendukung e-commerce per September 2017 nilai pendanaanya mencapai Rp 1,6 triliun rupiah.
"Porsi yang 1% tadi akan naik menjadi 3% dari total ritell, didukung oleh fintech dan banyak perusahaan konvensional yang berkolaborasi dengan digital," jelasnya.
Ia mencontohkan, perusahaan taksi konvensional Blue bird kerjasama dengan start-ups, sementara bank menjalin kerja sama dengan fintech. Bahkan, perusahaan transportasi berbasis aplikasi, Gojek, sudah mengakuisisi tiga fintech yang cukup besar.
Hak atas fotoADEK BERRYImage captionGojek adalah aplikasi transportasi online terbesar di Indonesia.
Kendati begitu, akhir tahun ini dipandang sebagai titik balik dari daya beli masyarakat, terutama di daerah yang sebelumnya mengalami pertumbuhan ekonomi yang negatif seperti Kalimantan Timur, Riau, dan Aceh, seiring dengan membaiknya harga komoditas.
"Jadi ini semua akan berkontribusi pada kenaikan daya beli. Transimisinya nanti ritel-ritel di daerah justru makin banyak lagi yang hidup," ujar Bhima.
Namun, ia memproyeksikan bisnis ritel pakaian jadi di Jakarta akan terus stagnan.
"Ritel pakaian jadi di Jakarta memang kurang begitu bagus prospeknya. Mall akan tetap hidup, tapi sebagai pusat kuliner. Karena tadi, ada leisure economy. Orang akan lebih banyak jalan-jalan."
Inovasi mengikuti perubahan
Kendati begitu, Corporate Communication General Manager PT Trans Retail Indonesia, Satria Hamid mengaku tak gentar dengan perubahan pola berbelanja konsumen dan percaya diri sanggup berkompetisi dengan pebisnis online. Kata kuncinya, inovasi mengikuti perubahan.
"Kalau terjemahan di perusahaan kami sendiri, kami kembangkan, kami mekarkan dengan memadukan konsep entertaintment, shopping is experience, kemudian juga kita sasar segmen keluarga."
"Konsep yang kita kembangkan kita tidak hanya berjualan saja, kami juga kembangkan konsep four in one. Kita ramu konsep berbelanja, bersantap atau kuliner, bermain, dan menonton," imbuhnya.
Hak atas fotoAHMAD ZAMRONI/AFP/GETTY IMAGESImage captionMelempemnya industri ritel menuntut pengusaha untuk berinovasi dalam mengemas konsep berjualan.
Bahkan, di saat ritel-ritel lain menutup toko, Satria menegaskan pihaknya cukup percaya diri membuka toko.
"Seiring terus bertumbuhnya kota-kota di Indonesia. Tahun ini saja, terakhir di Cirebon, kita sudah membuka 19 toko. Selain itu, di penghujung tahun, kita akan membuka toko secara serentak di tiga kota, Bintaro, Sidoarjo dan Lampung," kata dia.
Lebih jauh, Satria menuturkan bisnis ritel merupakan bisnis yang sangat dinamis. Yang menjadi pemimpin pasar, menurutnya, adalah mereka yang bisa "menterjemahkan apa kemauan konsumen secara tepat, sesuai dengan segmentasinya".
Tahun politik genjot konsumsi
Selain tren leisure economy, perekonomian Indonesia pada tahun depan juga akan dibayangi dengan tahun politik.
Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan salah satu peluang positif dari tahun politik adalah pengeluaran sektor konsumsi yang diprediksi ikut naik.
"Karena tahun politik, biasanya banyak concern, banyak pertanyaan terutama mengenai investasi. Kalau konsumsi kemungkinan terbantu karena kegiatan yang terkait dengan pilkada maupun pemilihan legislative sendiri. Tapi untuk investasi seharusnya Indonesia sudah pada tahap dimana kegiatan ekonomi dan politik tidak saling berpengaruh terlalu dekat lagi,"
Hak atas fotoMOLLY RILEY/AFP/GETTY IMAGESImage captionBambang Brodjonegoro mengatakan salah satu peluang positif dari tahun politik adalah pengeluaran sektor konsumsi yang diprediksi ikut naik.
Beberapa sektor yang menopang pertumbuhan ekonomi tahun depan antara lain infrastruktur, perbankan, dan manufaktur.
Ekonom dari Universitas Padjajaran Ina Primiana mengakui, pada tahun-tahun dimana pemilu digelar, sektor ekonomi mikro kecil tumbuh dan bergerak lantaran membanjirnya pemesanan untuk kebutuhan pilkada itu.
"Tapi menurut saya itu hanya di bawah, di sisi mikro kecil, tapi tidak di mikro menengah besar yang lebih bisa mendorong lebih besar untuk pertumbuhan ekonomi, terutama untuk membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan daya beli," ujar Ina kepada BBC Indonesia.
Pada Juni 2018 nanti, 171 daerah akan melangsungkan pemilihan kepala daerah serentak. Tak hanya momentum pilkada, tahun depan juga diprediksi menjadi tahun pemanasan menjelang pemilihan presiden dan legislatif pada April 2019. (BBC Indo)
‘KUIH karipap inti oksigen!’… Pasti ramai pernah terbaca dan masih ingat kisah seorang pembeli berkongsi dalam media sosial mengenai kuih karipap dibeli di sebuah bazar Ramadan sebelum ini.
Karipap inti oksigen merujuk kepada kuih karipap yang dalamnya hampir 90 peratus kosong, sekadar dipenuhi angin, cuma ada seciput inti tidak kiralah kentang, ayam mahupun sardin.
Kisah yang tular itu mendapat respon daripada pelbagai golongan masyarakat khususnya pembeli lain yang turut berkongsi pengalaman mereka yang lebih kurang serupa cuma berlainan versi.
Rata-rata mempersoalkan sikap peniaga yang raih untung dengan cara tidak sepatutnya atau boleh dikategorikan menipu pembeli. Baru-baru ini, saya sendiri melalui pengalaman sama ketika mahu beli kuih apam balik.
Seperti kita maklum, apam balik adalah sejenis kuih dibuat daripada tepung, ada jagung, kacang dan gula sebagai isi. Kebiasaannya harga sekeping adalah sekitar RM2.50 hingga RM3, namun bergantung kepada lokasi ia dijual.
Harga yang saya katakan itu ialah apam balik yang biasa dijual di tepi jalan, di depan kedai atau pun di pasar malam.
“Pak cik, apam balik satu,” kata saya ketika membuat pesanan kepada si penjual apam balik yang berniaga di depan sebuah pasar raya di Damansara.
“Nak jagung ke biasa?” soal beliau kembali kepada saya. “Nak jagung? Biasa macam mana? Tak faham,” balas saya musykil dengan pertanyaan si penjual yang boleh kata sebulan sekali juga saya beli apam balik daripadanya tapi selalu tiada pun soalan nak jagung atau biasa.
“Biasa tak ada jagung dik, kalau nak jagung kene tambah RM1.50,” jawabnya memberi penjelasan. “Pulak (macam tu pula),” bisik hati kecil saya.
“Oh kalau macam tu bagi biasa je lah pak cik,” balas saya kembali sambil memerhatikan si penjual membuat apam balik saya tanpa jagung!
Berkata di dalam hati, “memang tak sedaplah apam balik aku ni nanti sebab tak ada jagung tapi tak apalah nak tengok dan rasa juga apa hasilnya.”
Masuk ke dalam kereta, saya membuka bungkusan dan terus menyuap apam balik tadi ke dalam mulut.
Allah! Memang ‘out’ rasanya. Seperti makan kuih tepung dengan kacang tabur dan gula pasir semata. Macam ni rasanya apam balik tanpa jagung. Memang tak sedap!
Saya bukan kedekut untuk membayar RM4 bagi mendapatkan apam balik yang ada jagung, sebaliknya sengaja saya berbuat demikian kerana ingin merasai sendiri apam balik ‘tidak cukup sifat’ itu.
Beberapa hari selepas kejadian itu, saya terlihat status laman sosial Facebook seorang kenalan juga mengenai apam balik. Rupa-rupanya bukan saya seorang yang berhadapan pengalaman apam balik tak ada jagung, Farid yang menetap di Shah Alam juga berhadapan situasi sama.
Beliau juga perlu membayar tambahan RM1.50 bagi mendapatkan apam balik yang ada jagung, menjadikan harga seketul ‘apam balik lengkap’ RM4.50.
Memetik sebahagian status Facebook miliknya beliau menulis, “Apam balik bukan memang dijual ada jagung ke? Aku membesar makan apam balik ada jagung. How come? Kena bayar untuk rasa kenikmatan jagung tu?”
Status Facebooknya itu mendapat pelbagai komen yang kritik sikap si penjual yang disifatkan mengambil kesempatan untuk meraih keuntungan semata-mata.
Rata-ratanya mempersoal dan tidak boleh hadam apabila dikatakan apam balik tanpa jagung!
Meskipun rasa kelakar malahan saya ketawa sendirian apabila membaca komen-komen netizen mengenai isu apam balik ini, tetapi secara logik memang ada betulnya mereka membantah apam balik tanpa jagung itu.
Pertamanya, memang sifat semula jadi, sejak dahulu lagi, apam balik memang ada jagung.
Tidak lengkaplah apam balik tanpa jagung kerana majoriti kita beli apam balik pun memang sebab jagungnya.
Kedua, kita bukan minta ‘extra jagung’ untuk dikenakan caj tambahan sebanyak RM1.50. Kita membeli sesuatu yang sepatutnya kita dapat dengan sewajarnya.
Ada perbezaannya jika kita minta ‘extra’. Contohnya, jika kita beli burger di tepi jalan dan mahu ‘extra cheese’ atau beli nasi lemak di warung mak cik Salmah (nama samaran) kita mahu sambal atau ikan bilis lebih.
Itu baru logik dikenakan caj tambahan kerana kita minta lebih.
Kadang-kadang minta sambal dan ikan bilis lebih pun tidak dikenakan caj atas faktor peniaga memikirkan lebih ramai pelanggan akan datang kerana sikap lebih kurang dan tidak berkira.
Bertimbang rasalah wahai peniaga. Jika bayaran tambahan RM1.50 dikenakan untuk apam balik dengan jagung, bayaran tambahan RM1-RM1.50 pula dikenakan jika pembeli mahu ‘extra jagung’.
Akhirnya, harga sekeping apam balik dengan ‘extra jagung’ boleh mencecah RM5.50! Itu baru kisah apam balik tanpa jagung dan karipap oksigen.
Belum lagi saya kongsikan kisah rakan lain yang beli nasi lemak dengan telur bagai dibelah 20 (sebiji telur dibelah 20 bahagian) hingga ibarat senipis tisu!
Laksa utara sekadar mee dan kuah cair tanpa bawang, timun, salad dan telur dengan alasan ‘bahan dah habis’ sedangkan datang hari-hari pun tetap begitulah menunya.
Saya bukan sengaja mahu menghentam jauh sekali memburukkan peniaga yang menaikkan harga barang jualan mereka kerana kita semua sedia maklum harga barang dan harga minyak pun naik.
Sebagai pengguna saya memahami jika golongan peniaga perlu menaikkan sedikit harga demi memastikan mereka tidak rugi dan boleh menampung kos perniagaan.
Akan tetapi biarlah dengan cara yang sepatutnya. Bukan dengan menidakkan perkara atau hak yang ada untuk si pembeli meskipun ada yang menganggap ia sebagai sesuatu yang remeh.
Mungkin dengan RM3 atau RM3.50 kita boleh menikmati apam balik dengan jagung, tanpa sebarang caj tambahan dan jika mahu ‘extra jagung’ barulah sesuai dikenakan bayaran tambahan sewajarnya.
Saya juga percaya, ramai dalam kalangan kita pembeli dan pengguna tidak kisah untuk bayar lebih sedikit asalkan betul-betul berbaloi dengan rasa dan memuaskan hati.
Peniaga juga perlu bijak merancang strategi perniagaan agar tidak dilihat terlalu obses mengaut untung sehingga mengabaikan hak pengguna. Jika sedap dan berbaloi, pengguna pasti akan datang lagi ke kedai anda.
Dan jangan lupa, kuasa media sosial hari ini boleh memberi keuntungan atau kerugian kepada anda bergantung kepada layanan, produk dan perkhidmatan yang diberikan kepada pelanggan. – BERNAMA
Setakat artikel ini ditulis, saya belum menemui lagi Warren Buffet dan Mark Zuckerberg, pengasas Facebook beria-ria berswafoto untuk menunjukkan kekayaan mereka, tidak kisahlah sama ada mahu menunjuk-nunjuk kereta, duit, cincin atau pun rumah.
Mungkin ramai yang tidak tahu bahawa Warren Buffet masih lagi tinggal di rumah yang dibelinya pada tahun 1958 dengan harga USD31,500.
Rumah banglo milik Warren Buffett
Rumah banglo milik Mark Zuckerberg
Kereta hitam itu merupakan mereka yang dipandu oleh Mark Zuckerberg setiap hari ke tempat kerja. Bila ditanya mengapa, jawab beliau tidak suka dikenali orang ramai. MashaAllah, humble-nya orang kafir.
Manakala kereta coklat di bawah ini merupakan milik kepada manusia kedua terkaya di dunia, Warren Buffet.
Ada dua jenis orang kaya: Pertama – Kaya gila Kedua – Gila nak tunjuk kaya Bagi kategori pertama, Kaya Gila, kebanyakkan kafir manakala bagi kategori kedua pula, Gila Nak Tunjuk Kaya, kebanyakkannya bani Melayu. Bukan susah mahu mengenali orang yang kaya seperti Rockefeller, Bloomberg, Bill Gates, Vincent Tan, Warren Buffet, Robert Kuok dan lain-lain billionaire di dunia. Mereka ini boleh dikategorikan sebagai spesis singa, duit tidak pernah habis. Sama ada anda suka dengan kami ataupun tidak, kami ada duit berbillion sebab kami pandai membuat duit. Kami tidak kisah apa yang orang fikirkan tentang kami. Tetapi, spesis yang gila nak tunjuk kaya pun ramai dan senang mahu cam. Biasanya public figure Melayu yang ramai terlibat. Jenis macam ini namanya spesis kambing, berak tahi warna hitam macam makjun. Kaya jenis suam-suami kuku. Baru jadi jutawan sudah terkena kejutan budaya dan kebiasaanny, kekayaan mereka ini tidak bertahan lama. Sekarang ini, di dalam Malaysia, spesis macam ini berlambak dan membiak di Facebook. Contohnya bila mahu ber-shopping di Louis Vuitton ataupun mahu membeli beg tangan Channel, Marc Jacobs ataupun Hermes, mereka akan buat live ataupun paling kurang berswafoto. Bila mahu tempah kereta mewah, mereka suka beritahu satu dunia. Rumah berharga RM10 juta yang masih di dalam pembinaan pun mahu ditunjukkan kepada semua orang seperti mahu membuktikan kepada dunia bahawa mereka ini memang jutawan.
Tan Sri Syed Mokhtar Albukhary adalah salah satu contoh orang kaya spesis singa. Anak beli Bentley pun kena cerita supaya anak aku tahapnya lebih tinggi daripada orang lain. Jadi inilah perangai orang-orang yang suam-suam kuku kaya sebab itu dia kena beritahu orang ramai bahawa mereka ini kaya. Mereka ini takut kalau-kalau orang lain tidak tahu yang mereka ini kaya, takut nanti orang cakap bisnes mereka tidak maju. Jadi imej mesti mahu dijaga. Ini namanya orang kaya tetapi low class. Sebab mereka ini ingat kelas itu terletak semata-mata pada material. Pakai Prada tetapi otak tiada. Berlainan dengan spesis singa, mereka tidak perlu berswafoto depan butik Louis Vuitton semata-mata mahu memberitahu yang aku mampu, sebab mereka ini memang mampu. Tiada siapa yang boleh menghalang mereka daripada membeli. Apa yang lawaknya, Melayu yang jenis kaya suam-suam kuku mahu beli beg tangan mahal, tetapi tanya harga, nampak sangat tidak cukup kaya. Orang kaya gila mana ada tanya harga, kecuali jenis yang suka tunjuk kaya saja yang tanya harga, takut-takut duit mereka tidak mencukupi. Manakala orang kaya jenis singa pula mentaliti mereka adalah “I want this,I will pay.” Orang kaya gila, habitatnya memang gila. Mindset mereka memang kaya. Cara berfikir mereka pun memang kaya sebab mereka menjadi kaya melalui proses yang bernilai dan matang. Mereka tidak perlu mahu menunjuk kaya sebab mahu approval daripada orang ramai. Mereka tidak perlu berswafoto di dalam helikopter semata-mata mahu beritahu: “I dalam heli yang I beli RM5 juta semalam…” atau… “Hari ini I naik business class siap belanja kawan-kawan sebab bisnes sudah boom. Habis RM50k, tetapi takpe, nanti tuhan tambah lagi..” Tetapi, spesis singa beli beg tangan berharga RM200k sebuah bagi mereka tiada masalah, macam RM20 saja. Mereka pakai pun sebab mereka mampu dan puas, bukannya mahu beritahu orang lain yang mereka sudah mampu.
Ironinya, jenis yang kaya suam-suam kuku kena tunjuk di Facebook ataupun Twitter untuk beritahu yang dia sudah belanjakan RM20k beli sebuah be tangan. Jadi, nampak sangat dia yang excited jadi kaya.
Orang kaya gila seperti Bloomberg ataupun Bill Gates, money has no value to them because its already there. They are already successful.
Berbeza pula dengan yang kaya suam-suam kuku ini, kena beritahu satu dunia betapa hebatnya menjadi kaya, lalu kena tunjuk rumah sudah ada lima bilik, tengah rancang mahu membeli lagi 5 buah rumah lagi. Jadi terpaksa ambil gambar dan post di media sosial.
Kebiasaannya, orang terkenal yang suka menunjuk kaya berjayanya tidak akan bertahan lama. Sebab fokus mereka hanyalah mahu menayangkan kekayaan mereka. Cuba beritahu satu nama tauke produk Melayu yang sudah buat produk yang dapat bertahan selama 50 tahun dan pergi ke peringkat antarabangsa, ada? Normally, jenis yang suka menunjuk ini ialah ibarat berperangai seperti beruk dapat bunga. Terkejut sebab jadi kaya.
Kaya atau material are a product of success.
Tetapi di Malaysia ini, semakin ramai orang yang bodoh-bodoh dan memuja-muja orang terkenal ini sebab kekayaan mereka. Terkedu tengok hebatnya si kaya itu pakai Ferrari.
Orang kafir, mereka nilaikan kejayaan, bukannya materials. Mereka hormati orang sebab nilai kejayaan mereka, bukan materials. Mereka mahu tahu macam mana Mark boleh berjaya buat Facebook, bukannya mahu tahu Mark boleh beli apa. Bukannya mereka mahu tengok Mark pakai baju kot yang berharga cecah berjuta-juta ringgit.
Pernah nampak Mark selfie tunjuk cincin berlian berharga RM5 juta?
Budaya di Malaysia ini semakin penuh dengan aksi badut dan propa, semakin banyak orang yang suka. Waktu orang tengah suka, jual tahi kambing pun boleh dikatakan mujarab untuk kuruskan badan. Orang ramai beli sebab aksi badut yang dibuat.
Kemudian, beli cash gelaran Dato’ atau pun Dato’ Seri. Jadi semakin terserlahlah ‘kekayaan’ mereka dan dapatlah approval bahawa orang ini sebenarnya betul-betul hebat.
Lagi banyak buat aksi menarik perhatian orang ramai, walaupun sekadar aksi bodoh semata-mata, jadi semakin lakulah produk mereka. Tak pernah pulak saya nampak Armani atau Chanel buat aksi bodoh untuk mendapatkan perhatian.
Satu lagi,boleh cuba taja rancangan “agama”, maka tunduklah Melayu dan yakinlah mereka tauke produk ini sangat beriman, lalu berkerumunlah bani Melayu datang membeli produk mereka.
Kalau sudah memang berjaya dan bertaraf jutawan seperti Ronaldo ataupun Messi dan Usain Bolt, tidak perlu ambil gambar snediri dan tunjuk harta benda.
Paparazzi yang akan volunteer mengambil gambar kita tanpa pengetahuan kita. Paparazzi yang akan kejar mahu melihat koleksi kereta mewah kita, walaupun kita sorok.
Tetapi jenis gila mahu tunjuk kaya tidak berhenti-henti bercerita apa yang mampu mereka beli, macam tiada cerita lain di dalam hidup mereka. Dia menjadi seronok bila orang lain tahu yang dia kaya, bukannya seronok sebab produk dia sudah berjaya sembuhkan 500 juta orang di dalam dunia.
Cubalah baca kisah Leonardo De Caprio. Dia suka kehidupan yang low profile, kereta ada sebuah saja sebelum ini. Tetapi, anehnya satu dunia tahu betapa berjayanya dia di dalam kerjaya beliau. Tidak perlu pun beritahu betapa “aku mampu beli sebuah mansion di Malibu sebab aku pelakon terkenal di Hollywood…” Malulah sikit dengan orang kafir.
Ramai lagi artis Hollywood yang hebat seperti Matt Damoin, Denzel Washington, Daniel Day Lewis, semuanya hidup sangat low profile, jauh daripada orang dan tidak sukakan skandal ataupun gossip. Mereka tidak perlu mahu beritahu kisah percintaan mereka, anak sekolah di mana sebab bagi mereka itu semua kehidupan peribadi.
Tapi spesis Melayu kambing mahu beritahu satu dunia yang betapa gembiranya mereka menjadi kaya berbanding dengan orang lain. Kadang-kadang produk pun tahap mediocre saja, bukannya luar biasa pun. Tetapi kisah bodoh dalam kainnya yang lebih banyak dijaja dan ditertawakan.
KERAJAAN negeri bersama Dewan Usahawan Kelantan (Duke) akan mengumumkan 100 usahawan yang paling berpengaruh di negeri itu pada Februari depan.
Presiden Duke, Zaki Zakaria berkata, inisiatif itu turut mendapat sokongan kerajaan negeri khususnya Jawatankuasa Kerajaan Tempatan, Perumahan, Belia dan Sukan.
"Kita sangat menggalakkan anak muda agar menceburi bidang keusahawanan dengan sokongan yang ditunjukkan anggota Exco, Dato' Abdul Fattah Mahmood bagi menjayakan program tersebut di Kelantan.
"Pada Februari depan kita akan mengumumkan 100 usahawan paling berpengaruh, bukan sahaja di Kelantan sahaja malah seluruh Malaysia," katanya.
Beliau berkata demikian ketika ditemui pemberita selepas perasmian Seminar Marketing Luar Biasa dan Anugerah Harapan Usahawan di Dewan Besar Duyong Perdana Resort, Kota Bharu, hari ini.
Pada majlis yang dianjurkan bersama Majalah Niaga, PKINK dan Air Kelantan Sdn Bhd itu, seramai 10 usahawan menerima Anugerah Harapan Usahawan disampaikan Abdul Fattah. – HARAKAHDAILY 16/12/2017
BUTTERWORTH: Kementerian Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi dan Kepenggunaan (KPDNKK) Pulau Pinang pada Khamis menyerbu sebuah kilang memproses mi dan kuetiau di Mak Mandin, di sini kerana menyalah guna logo halal Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim).
Bertindak hasil maklumat daripada orang awam yang curiga dengan status halal produk yang dikeluarkan kilang itu, sepasukan penguatkuasa KPDNKK Seberang Perai Utara (SPU) bersama pegawai Jabatan Hal Ehwal Agama Islam Pulau Pinang (JHEAIPP) menyerbu premis berkenaan kira-kira pukul 12 tengah hari.
Ketua Cawangan KPDNKK SPU, Zalina Aziz berkata, ketika serbuan ke atas kilang itu terdapat beberapa pekerja sedang membungkus mi dan kuetiau menggunakan plastik tertera logo halal.
Katanya, siasatan awal mendapati produk mi dan kuetiau yang dikeluarkan premis terbabit dipasarkan sekitar Pulau Pinang.
"Produk berkenaan dibungkus menggunakan plastik tertera logo halal JAKIM tetapi pemeriksaan awal mendapati premis berkenaan tidak mempunyai sijil halal sah.
"Berikutan itu, kami menyita 175.1 kilogram plastik bercetak logo halal dan 15,600 keping pelekat logo halal dari premis berkenaan," katanya di sini, Khamis.
Zalina berkata, pihaknya turut mengarahkan kilang itu untuk memberhentikan kerja-kerja memproses mi dan kuetiau sehingga siasatan dijalankan selesai.
Katanya, siasatan lanjut masih dijalankan dan pihaknya turut mengambil keterangan pemilik premis berkenaan berusia 50-an untuk membantu siasatan.
Beliau berkata, kes itu disiasat mengikut Perintah Perihal Dagangan (Perakuan dan Penandaan Halal) 2011 dan sabit kesalahan boleh didenda tidak melebihi RM100,000 atau penjara tidak lebih tiga tahun atau kedua-duanya. - Bernama
NEW DELHI: McDonald's menutup 169 restorannya di wilayah utara dan timur India berikutan pertikaian francais.
Rangkaian makanan segera Amerika Syarikat (AS) itu, mendakwa berlaku kegagalan pembayaran royalti, justeru menamatkan perjanjian antara McDonald's India Pvt Ltd dan Connaught Plaza Restaurant Ltd (CPRL).
Usaha sama 50:50 antara ahli perniagaan tempatan, Vikram Bakshi dan syarikat AS, CPRL telah mengusahakan restoran McDonald's di wilayah utara dan timur India.
McDonald's berkata, CPRL perlu 'menghentikan penggunaan keseluruhan sistem McDonald's (yang termasuk hak milikan nama, cap dagangan, reka bentuk, penjenamaan, amalan serta dasar operasi dan pemasaran, resipi makanan serta spesifikasi McDonald's) dan harta inteleknya berkaitan semua restoran berkenaan dalam tempoh 15 hari dari tarikh notis penamatan terbabit.
McDonald's mengalami pertikaian berpanjangan dengan Bakshi, yang dipecat daripada jawatan pengarah urusan CPRL pada 2013.
Tribunal Undang-undang Syarikat Negara India pada bulan lalu memutuskan mengembalikan semula jawatan itu kepada Bakshi.
Bakshi berkata, beliau akan meneruskan tindakan undang-undang terhadap penamatan perjanjian francaisinya.
McDonald's menutup 43 daripada 55 restorannya di ibu negara India setakat Jun 2017.
Penutupan perniagaan keseluruhan McDonald's di utara dan timur India akan menjejaskan ribuan pekerja.
Syarikat AS itu memasuki India ketika pembaharuan pasaran pada 1990-an dan hari ini ia mengendalikan lebih 300 restoran di 65 bandar.
Rakan francaisnya di wilayah selatan dan barat India ialah Hardcastle Restaurants Private Ltd. - BERNAMA
Peluang Kerja dan Jadi Usahawan Gunting Rambut. Tel Terus.. ABBU 011 33111321 (KL) E-Persatuan Pengusaha Barbershop (E-PPB) Bermatlamat: Lahirkan Usahawan Gunting Rambut. Beri Kursus, Bimbingan dan Kerja.
RM200-RM300 Sehari. Peluang Kerja Korea Selatan. Hanya RMXXXX Tiket & Khidmat..
E-Buku IH-106: Kerja Ladang, Australia & Islam.
Peluang Kerja Kutip Buah Di Australia, Gaji RM40-48 Per Jam.. Bagaimana?
IBNU HASYIM adalah nama samaran bagi Hj Mohd Hashim. Pernah menulis dibeberapa akhbar tempatan. Mantan Pengarang Majalah Al-Ummah dan pernah menghasilkan beberapa buah buku politik, sejarah dan agama. Menjadi ahli bisnes separuh jalan..
-
Pindah milik tanah secara tidak sah di Selangor? January 16, 2025 Share
SHAH ALAM: PAS Selangor melahirkan rasa bimbang dan kesal dengan kegiatan
pindah mi...