|
Pengurus Besar Habib Jewels Holding, Abdul Razak Abdul Kader, berkata setelah setahun pihaknya membuat kajian berhubung perkara itu, akhirnya bulan Ogos lalu, hotel yang bercirikan ‘butik’ itu beroperasi di Kelantan. Bagaimanapun, menurutnya, ianya akan dibuka secara rasmi pada 14 Oktober ini di mana satu majlis perasmian akan diadakan. Menurutnya lagi, berdasarkan maklumat yang diperolehi peluang ekonomi di Kelantan akan bertambah maju pada masa akan datang. “Kerana itu kami sebagai orang bisnes sanggup melabur di negeri ini dalam eset yang lain pula,” ujarnya. Tambahnya, pada masa yang sama ianya juga bakal memberi peluang pekerjaan pada masyarakat Kelantan apabila sebahagian besar pekerja di hotel tersebut termasuk ‘show room’ Habib Jewels dan kilang terdiri dari masyarakat Kelantan. Sambung Razak lagi, sambutan orang ramai terhadap hotelnya hampir memenuhi sasaran sebagaimana yang dijangkakan walaupun baru sebulan dibuka. Ini kerana, katanya lebih 50 peratus pengunjung telah mendiami hotel tersebut yang terdiri dari ahli perniagaan, kakitangan kerajaan Persekutuan dan pelancong tempatan. Hotel Habib menawarkan dua pilihan kepada pelanggannya iaitu superior dengan harga RM130 dan deluxe RM150 dengan jumlah keseluruhan sebanyak 32 bilik. Kedudukannya yang begitu strategik di tengah bandar Kota Bharu dijangka akan mendapat sambutan yang lebih hebat pada masa akan datang. |
Quick bersaing dengan McDonald di pasar burger Prancis
Bisnis daging halal marak di Prancis
BBC Indonesia 6 September 2010: Pasar produk halal, khususnya daging, tumbuh pesat di Prancis dalam beberapa bulan terakhir.
Pekan ini jaringan restoran hidangan siap saji, Quick, mengumumkan 22 dari restorannya kini akan menyuguhkan daging halal saja.
Quick merupakan jaringan restoran burger peringkat kedua di Prancis setelah McDonald.
Quick telah mengujicoba memasarkan daging halal di delapan restoran dalam sembilan bulan terakhir. Langkah itu mengundang kecaman dari beberapa politisi dan intelektual yang khawatir bahwa nilai-nilai sekuler Republik Prancis dikhianati.
Makanan halal sudah menjadi bisnis besar di Prancis, dan tumbuh pesat.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di Eropa, sekitar enam juta jiwa, pasar produk halal bernilai 5,5 miliar euro, atau sekitar dua kali nilai pasar makanan organik.
Meski burger yang disajikan di Quick benar-benar halal, para pakar meragukan seberapa banyak yang dijual di tempat lain halal.
Rachid Bakhalq, pemilik supermarket halal di Nanterre, pinggiran utara kota Paris, mengatakan pasar dibanjiri produk palsu.
Dia mengatakan kepada BBC bahwa ''80% produk halal berbasis daging sama sekali tidak halal,'' katanya.
Ketika ditanya bukti yang dia miliki untuk mendukung pernyataannya, dia mengatakan di pasar grosir yang dia datangi di luar Paris, ''ada orang di sana yang siap memberikan stempel pada apa pun yang anda inginkan halal, hanya karena mereka punya uang dan mereka mengutip 15 sen per kilo hanya untuk membubuhkan stempel ke produk apa pun yang anda kehendaki distempel halal.''
Klaim semacam ini umumnya diakui oleh banyak warga Muslim.
Sistem tidak sempurna
Semakin banyak konsumen di Eropa membeli produk halal
Abbas Bendali, seorang ahli pemasaran yang mengkhususkan diri pada produk etnis dan minoritas, mengatakan masalahnya adalah bahwa ada begitu banyak organisasi yang terlibat dalam sertifikasikan produk halal.
''Di Prancis hari ini, ada hampir 50 organisasi yang mengeluarkan sertifikasi daging halal,'' ujar Bendali.
''Masuk akal bahwa untuk pasar yang akan bernilai 5,5 miliar euro pada tahun 2010, mestinya hanya ada satu sertifikasi. Itulah yang dikehendaki konsumen, dan itulah yang dikehendaki industri,'' ujarnya.
Para pejabat di beberapa masjid di Paris mengatakan bahwa dengan sumber daya terbatas dan beragam organisasi yang terlibat, sulit untuk memastikan bahwa ada tenaga berkualifikasi bertugas sepanjang waktu untuk memantau semua hewan yang disembelih sesuai dengan ketentuan ketat makanan Islami,'' katanya.
Kamel Kabtane, pimpinan sebuah masjid besar di Lyon, dan bertanggungjawab atas isu halal di Dewan Muslim Prancis, mengatakan kepada koran Le Parisien bahwa pemeriksaan tidak cukup ketat untuk 40-50% produk yang dijual dengan labael halal Prancis.
Dewan itu berniat memperkenalkan piagam nasional yang akan ditandatangani seluruh masjid dan organisasi yang terlibat dalam sertifikai daging halal.




